JAKARTA: Memulai Hidup Dari Awal
Teruntuk diriku sendiri,
Blog ini menjadi anonim untuk sementara waktu. Hingga di titik ketika suksesmu sudah dapat kau ceritakan. Barulah blog ini menjadi pengiring cerita, prolog bagaimana akhirnya kau sampai dalam kisah suksesmu itu.
Harusnya aku mulai menulis blog ini sejak minggu lalu, karena itu kali pertama aku memulai hidupku di Kota Seribu Mimpi ini, Jakarta. Kota yang banyak digaungkan sebagai bentuk kesuksesan karir hidup seseorang. Seperti sebuah kalimat simpel, SUKSES ADALAH JAKARTA, hehe...
Kamis, 27 Juli 2023
Ada haru dan bahagia untuk seseorang yang tersisa 2 tahun lagi menuju kepala tiga. Akhirnya aku kembali bekerja. Walau bayangan merantau jauh sudah di depan mata, namun banyak do'a dan air mata yang terjawab lewatnya.
Ini bukan kali pertama aku bekerja, sebelumnya aku sempat bekerja dan harus kost berbeda kota,tapi masih dalam satu provinsi. Jum'at sore aku bisa pulang ke rumah, dan senin subuh baru kembali berangkat ke kantor dengan bus antar kota. Sedangkan kali ini, aku harus merantau berbeda kota, dengan perjalanan darat dan laut total 15 jam perjalanan. Mungkin hanya butuh 15 menit jika naik pesawat. Tapi untuk saat ini, ongkos pesawat masih bisa dialihkan untuk kebutuhan living kost yang baru. Apalagi, di kota ini aku masih belum tahu, berapa besar living kost selama sebulan yang harus aku keluarkan.
Nah, balik lagi ke kisah di awal, yang seru banget, ibuku dan juga saudara-saudaraku ikut merasakan kebahagiaan aku. Akhirnya setelah sekitar 4 bulan berenti dari kantor lama, aku kembali merasakan atmosfir kerja lagi. Dan pada tanggal kamis, 27 Juli 2023, tepat pukul 12.30, bisku (baca: bus kesayanganku) berangkat. Ceritanya, aku nggak sendirian, ibu, dua keponakanku, dan satu saudariku juga nemenin mengantarku sampe bus berangkat.
Ceritanya lagi, baru kali ini rasanya aku ngeliat pemandangan jalanan kota Palembang dengan mata yang bener-bener terharu. Luar biasa ya gimana rasa haru itu ngalir di hati pas liat kota yang udah akrab banget dengan kita. Dan yang bikin merinding, entah kapan lagi bisa ngerasain momen indah kaya gini.
Terus selama perjalanan, untungnya kursi di sampingku nggak ada yang duduk, jadi aku yang memang cenderung lebih suka sendiri bisa menikmati ini sebagai hal yang bikin seneng. Bayangin aja, gimana kalau tiba-tiba harus duduk bersebelahan sama orang asing yang nggak dikenal, terus masih bersamaan selama 15 jam perjalanan. Bisa jadi pengalaman seru, tapi juga bisa bikin geleng-geleng kepala, kan?
Siapa sangka kalau aku harus sampai terminal kampung rambutan pukul 01.00 dini hari. Di luar dari estimasi, perjalananku ke Jakarta kelewat lancar, yang harusnya sampai pukul 3 pagi, justru lebih cepat 2 jam. Meski banyak orang yang juga turun, tapi mereka nampak bukan orang yang pertama kali ke kota ini, mereka tahu harus kemana. Padahal mataku masih ingin tidur, tapi tak ada tempat untuk tidur disini, dengan tas ransel berisi banyak barang berharga dan satu buah koper besar berisi baju, celana dan sepatu untukku mulai bekerja disini.
Lama aku duduk di bangku kayu di dekat pedagang-pedagang yang sembari berjualan sembari tidur. Beberapa bis antar kota berhenti menanyakan aku hendak kemana. Aku sebenarnya punya tujuan, ke kost yang satu bulan sebelumnya telah aku sempat review ketika harus ke Jakarta untuk tes Medical Checkup. Tapi mana mungkin pemilik kost mau menerima tamu jam segini. Apalagi aku hanya mereview tempatnya tanpa memberi tahu kapan akan menempatinya. Sebab, ada jeda hampir satu bulan sampai akhirnya aku diterima.
Ada beberapa ojek yang juga menawari untuk mengantarku, tapi tetap saja aku tolak. Awalnya aku ingin memesan penginapan untuk semalam di dekat situ, tapi ibu melarang, dan aku tak mau melawannya. Akhinya aku hanya duduk di bangku itu, menunggu pagi.
Seorang bapak tua duduk di sebelahku, mengajakku bercerita. Awalnya aku waspada, tapi semakin lama bercerita, nampaknya ia tak ada niat jahat padaku. Ia sempat bercerita bahwa di tahun 80an dia pernah tinggal di Palembang, tepatnya di Plaju. Ia menceritakan banyak perjalanannya hidup merantau karena tugas dinas kantornya. Dan memberi wejangan mengenai bertahan hidup di tempat asing, pegang kejujuran dan sifat baik.
Pukul setengah 2, beliau izin pamit, hendak pulang ke rumahnya. Jujur, aku ingin menahannya, karena aku merasa cukup aman kalau beliau masih disini, menunggu pagi. tapi mana mungkin aku berani bilang begitu.
Akhirnya, setelah mondar-mandir, aku memutuskan untuk mencari masjid yang buka 24 jam di daerah yang dekat dengan kost yang ingin aku tuju. Mungkin menunggu di masjid itu adalah solusi. Karena mana mungkin ada orang jahat di masjid. Aku memutuskan untuk ke salah satu masjid yang aku lihat di google maps, meminta seorang ojek untuk mengantarku kesana. Walaupun uang 50 ribu harus melayang hanya untuk mengantarku kesana.
Jadi, masjid itu rupanya ada dalam kompleks kantor kementerian, dan buat masuk ke masjid, harus lewat area kantornya. Jadinya, aku harus minta izin dari dua petugas keamanan untuk bisa sampe ke masjid. Untuk dua abang security yang baik hati itu, sebenarnya aku minta maaf karena agak ngelantur sedikit. Aku cerita, "Nungguin temanku dari Palembang, bisnya lagi mogok nih" dan "Dia bilang, nungguin di masjid aja soalnya masjidnya buka 24 jam." Mereka mukanya agak gimana gitu awalnya, tapi mungkin pas mereka liat aku bawa koper gede dan masih gelap, akhirnya dikasih ijin juga (walaupun mereka nggak lupa nyimpan KTPku dulu, hehe).
Sesampainya di area masjid, aku putusin buat solat tahajud, bersyukur, dan minta perlindungan serta bantuan dari Allah SWT. Setelah selesai sholat, tiba-tiba ibu nelpon, nanya kabar aku. Eh ternyata beliau belum tidur sama sekali, nungguin kabar aku. Bener-bener bikin hati hangat aja rasanya.
Setelah selesai solat, masih jam setengah 2 lewat 18 menit pagi. Aku duduk di teras masjid, bungkus kaki dan badan dengan jaketku. Sambil peluk lutut, akhirnya ngantuk banget dan tidur pulas hingga subuh tiba. Duh, serasa petualangan malam yang penuh makna, ya.
Selepas subuh, aku menelpon ibuku lagi, bertanya baiknya pukul berapa aku harus pergi dari sini dan menuju kost, ibu bilang pukul setengah enam saja. Walau akhirnya aku meninggalkan masjud pukul 5.15, setidaknya itu karena pagi di Jakarta ternyata lebih cepat.
Beruntung ketika sampai di kost, pagar kost sudah terbuka, dan ibu kost ada disana. Aku langsung memperkenalkan diri sebagai orang yang pernah kesini dan mereview kamar. Aku minta kamar kosong, dan beruntungnya masih banyak kamar yang tersedia. Dan aku dapat kamar di lantai dua, dengan jendela menghadap ke luar bangunan. Tapi aku masih belum bisa tidur, sebab pukul sembilan aku harus ke area Cilandak, ke kantor Outsourcing yang menerimaku untuk tanda tangan kontrak.
Dan Jum'at 28 Juli 2023 adalah hari terpanjang dan terkompleks yang aku rasakan hingga usiaku 28 tahun ini. Rasa takut, bahagia, sedih, lelah, semua ada. Begitu banyak hal asing dan baru yang sebelumnya belum aku rasakan, aku rasakan di satu hari yang sama. Bersyukur atas ridho Allah dan do'a ibuku.
Hingga saat ini 05 Agustus 2023 pukul 20.23 saat aku menulis postingan ini, aku merasa bersyukur. Semoga segala kebaikan terus datang kepadaku dan kepada keluargaku.
Di tempat baru ini, semoga hidupku semakin baik, dan semoga akan ada banyak cerita bahagia dan pengalaman yang menyenangkan yang akan aku tulis di post-post berikutnya. Salam dari pemandangan malam Jakarta dari balik kamar kostku.

.jpeg)

.jpeg)



Komentar
Posting Komentar